Ibu...
Aku membencinya ibu.
Aku membenci Ia...
Ia yang di tugaskan pemerintah untuk mendidikku
Ia yang selalu hadir setiap pagi di sekolah
Ibu...
Ia tidak mendidikku ibu...
Ia menelantarkan aku
Ia menghempaskan mistar panjang dibetisku
Ia menghukumku
Karena aku lupa membuat Pe-Er
Aku lupa karena aku ketiduran
aku ketiduran karena aku lelah
aku lelah
karena aku tadi siang membantu ibu di pasar
Aku membencinya Ibu
Aku membencinya
Aku benci guruku
guru yang egoiis... Ibu...
Peluklah aku Ibu...

puisi km sangat menyentuh. Gw ngerasa, pendidikan yang sedang kamu jalani kayak pendidikan jaman Belanda atau Jepang. Guru begitu disiplin. Hingga mereka beraosiasi, disiplin sama dengan kekerasan. kekerasan sama dengan memukul.
Sungguh keliru dan menyakitkan. Biarlah ini menjadi bagian cerita masa lalu. Sebuah pelajaran yang berarti. Orang bijaksana adalah mereka yang bisa memahami orang lain berdasar apa yang mereka pahami, bukan memaksakan pemahaman kita.
Puisi adalah tulisan bebas. Tak terikat dengan grammer, begitu juga dengan diksinya. Meskipun begitu, sebuah kalimat puisi haruslah tetap bisa dipahami. Judul dan kalimat pertama dan kedua, menurut aku butuh energi yang banyak untuk memaknainya. Kenapa? karena aku butuh intonasi dan jeda koma untuk melafalkanya. Setelah itu aku baru mengeri. Tapi barangkali kalau kata "Ibu" dipindah di depan, awal kalimat. Akan semakin mengalir dan mudah dipahami.
heeeeee...gaya, kaya tahu pusisi aja! Sori and maap lagi latihan menganalisa neh. Jadi ya gitu, sok gaya dikit deh.....
Kamu suka puisi juga ya? Keren abiez deh