Posts archive for: June, 2006
  • aku membencinya ibu...

    Ibu...
    Aku membencinya ibu.
    Aku membenci Ia...
    Ia yang di tugaskan pemerintah untuk mendidikku
    Ia yang selalu hadir setiap pagi di sekolah

    Ibu...
    Ia tidak mendidikku ibu...
    Ia menelantarkan aku
    Ia menghempaskan mistar panjang dibetisku
    Ia menghukumku

    Karena aku lupa membuat Pe-Er
    Aku lupa karena aku ketiduran
    aku ketiduran karena aku lelah
    aku lelah
    karena aku tadi siang membantu ibu di pasar

    Aku membencinya Ibu
    Aku membencinya
    Aku benci guruku
    guru yang egoiis... Ibu...

    Peluklah aku Ibu...

  • Lebih baik disini.... Rumah Kita sendiri....

    KEGIATAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP
    BAGI ANAK UMUR 9-12 TAHUN
    PADA
    RUMAH BACA LIANA INDONESIA

    Latar Belakang

    Lingkungan hidup kian waktu mengalami ancaman dan kerusakan setiap saat. Kerusakan yang disebabkan oleh pola hidup yang tidak ramah lingkungan dari manusia merupakan penyebab yang diyakini turut andil sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan hidup. Sebagai akibatnya, keseimbangan ekosistem menjadi terganggu, banjir, penyakit, erosi, longsor telah menimbulkan keresahan berkepanjangan di kehidupan masyarakat. Meskipun begitu, belum cukup untuk menjadikan kerusakan lingkungan sebagai pelajaran yang dapat menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Berbagai upaya penyadaran telah banyak dilakukan, dari seminar, simposium, pelatihan, pendidikan tak pernah lepas dari upaya kampanye kelestarian lingkungan hidup.

    Berkenaan dengan pendidikan, maka perlu adanya inisiatif dari berbagai pihak, baik instansi pemerintah, non pemerintah, swasta dan individu untuk bersama-sama memberikan pendidikan lingkungan hidup bagi masyarakat di Indonesia. Setiap masyarakat hendaknya turut serta dalam mendidik masyarakat yang perlu diberikan kesadaran lingkungan demi terwujudnya masyarakat sadar lingkungan. Tidak hanya masyarakat dewasa, namun pendidikan lingkungan pun hendaknya diberikan pada anak-anak. Baik melalui pendidikan formal dengan model muatan lokal, maupun kegiatan non formal.

    Atas dasar kepedulian untuk membangun karakter anak yang sadar lingkungan maka Rumah Baca Liana Indonesia, sebuah wadah dan tempat belajar bagi anak-anak usia 9-12 tahun dijalankan oleh individu (Resume Terlampir) semata-mata untuk memberikan ruang dan waktu bagi anak- anak untuk dapat mengembangkan potensi dirinya, membangun bakat dan kepedulian, memberikan pengalaman dan menjadi wadah berkreasi dengan kegiatan yang berwawasan lingkungan. Anak-anak, merupakan genarasi bangsa yang patut didorong motivasi, inisiatif, dan kreativitasnya untuk dapat menjadi anak yang cerdas, dan berwawasan lingkungan.

    Tujuan

    Rumah Baca Liana Indonesia dikelola dan dijalankan dengan tujuan untuk memberikan wadah belajar, berkomunikasi, kreatifitas untuk anak-anak usia 9-12 tahun agar mampu meningkatkan pengetahuan, menumbuhkan motivasi, membangun inisiatif, memiliki kesadaran lingkungan, sehingga hasil pembelajaran dapat menjadi pedoman dan tuntunan hidup anak sebagai generasi yang cerdas dan berwawasan lingkungan.

    Kegiatan Rumah Baca Liana Indonesia

    Rumah baca Liana indonesia memiliki program pembelajaran yang disusun berdasarkan kondisi dan situasi lokal. Kegiatan tersebut adalah sebagai berikut :

    1. Membaca dan Menyimak

    Membaca dan menyimak adalah sebuah kegiatan membaca buku cerita berwawasan lingkungan hidup. Selain membaca, penghuni rumah baca juga menyimak bahan bacaan yang akan dijadikan sebagai bahan diskusi.

    2. Ceritakanlah padaku!
    Kegiatan ini di pandu oleh seorang story teller (pembaca cerita). Kegiatan ini dirangkai dengan kegiatan diskusi dipadu dengan penggunaan bahasa inggris. Bahan cerita berwawasan lingkungan.

    3. Watch Me!,
    Kegiatan menonton film lingkungan hidup, dilanjutkan dengan diskusi dan menggambar, membuat cerita.

    4. What and Who!,
    kegiatan pendidikan lingkungan yang mempelajari makhluk hidup di muka bumi, apa dan siapa, dan mengapa aku ada. Pembelajaran bertajuk ekosistem dan keanekaragaman hayati.

    5. Ini Punyaku!,
    Sebuah kegiatan yang dirancang sebagai kegiatan praktek, kreatifitas yang berwawasan lingkungan mengacu pada konsep daur ulang kertas, pembuatan kerajinan dari bahan yang tak termanfaatkan.

    Metode penyampaian

    Kegiatan di Rumah Baca disampaikan dengan berbagai metode yang disesuaikan dengan suasana, kondisi dan kebutuhan pembelajaran. Secara garis besar penyampaian pembelajaran dilakukan dengan cerita, dongeng, diskusi, dan dipadu dengan kegiatan permainan alam.

    Metode Evaluasi

    Evaluasi dilakukan dengan cara memberikan lima pertanyaan pada setiap topik sebelum dan sesudah pembelajaran. Evaluasi komprehensif dilakukan setiap satu bulan sekali, dengan melakukan tes tertulis dan pencatatan keaktifan dan respon setiap kali kegiatan berlangsung. Data hasil test awal di perbandingkan dengan hasil tes akhir pembelajaran. Hasil test ditabulasikan dan dijelaskan secara deskriftif dan disajikan dalam ”buku baik kita”. ”Buku baik Kita memuat kegiatan ”keren” perilaku ”Pintar” dan nilai fabtastik kita, semuanya tercantum dalam ”buku baik kita”. Buku ini berwarna hijau, bertuliskan ”Buku Baik Kita”

    Penutup

    Adanya kegiatan dan program di rumah baca Liana Indonesia merupakan salah satu bentuk kepedulian, bersifat bebas dan terbuka untuk anak-anak kelas IV, V dan VI sekolah Dasar. Dilakukan secara mandiri dan tidak terikat. Semoga dengan adanya wadah dan kegiatan ini dapat mendorong inisiatif-inisiatif setiap masyarakat untuk turut serta menanamkan kesadaran dan bertanggungjawab terhadap lingkungan hidup dalam diri anak-anak. Program Pendidikan Lingkungan hidup ini juga didukung oleh rekan-rekan aktivis lingkungan hidup yang ada di Indonesia, Bantuan buku bacaan berasal dari Teman-teman yang tergabung dalam Jaringan Pendidikan Lingkungan Hidup Nasional, berasal dari Wetlands International-Indonesia Proggramme( Reza Irwansyah Lubis), Watala-Lampung (wawan), IDEF Foundation (trisna dan Sayu), World Wild Foundation (WWF)(ibu Rini), Huma Indonesia. Ibu Sri Windarti (Bappenas), The Nature Conservation bali (TNC Bali)( Bapak Marthen Welly). Pusat Studi Pelatihan dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman jawa Timur, Selain itu sumber bacaan dan informasi berasal dari Environmental Education for Kids da situs lainnya yang berkenaan dengan Pendidikan Lingkungan Hidup.

    Rumah Baca Liana Indonesia
    Jl. Swadaya No 2834 RT 48
    Email : sylvieoleth@telkom.net
    http://liana-indonesia.blog.co.uk

  • Kisah Liana dari Negeri Tanpa Air

    Petualangan Satu Malam Kembali ke Negeri Leluhur
    Kisah Liana dari Negeri Tanpa Air

    Pada suatu masa di Tahun 3000, dimana makhluk di bumi bernama manusia hidup dengan tabung O2 dipunggung, hidup dengan ke modernan yang selalu dibanggakan sebagai wujud eksistensi iptek terapan yang merupakan implementasi kemajuan pola pikir dan IQ sedang memikirkan bagaimana memperoleh setitik Zahra yang pada 1000 tahun lalu disebut Air.
    Pada masa itu pula hiduplah seorang anak bernama Liana, yang lahir dari setitik darah yang berasal dari sebuah tempat yang 1000 tahun lalu disebut hutan tropis, Indonesia.

    “ Selamat pagi liana, mau kemana kamu pagi-pagi begini?” sapa mesin pembersih, yang dirancang bisa berbicara, dan di desain seperti tubuh manusia, dengan memori 200 GB.

    ” mau mencari tempat bermain, aku bosan dengan suasana disini, gerah, bising.” jawabnya.

    ”apa kau sudah meninggalkan Voice Mail untuk Ibu? Tanya mesin cuci yang juga dirancang bisa bicara, yang kala itu sedang mencuci sebuah Handphone.

    ”sudah” kata liana sambil memasang Tabung O2 dipunggungnya.

    Liana dengan tabung O2 dipunggungya, memakai kendaraan dengan bahan bakar cahaya. Dengan langkah berat dan terlihat bosan Liana menjalankan Light Car nya, melaju kencang. Di tengah perjalanan ia melihat Logam-logam yang dirancang berbentuk sebuah Batang dengan lempengan-lempengan baja berwarna hijau, berbentuk bulat telur dengan lengkungan pada ujungnya. Dalam mesin sejarah di mesin pelajaran Liana dahulu, batang itu disebut Pohon dan Lempengan hijau lonjong itu adalah Daun. Di tengah perjalanan pula liana melewati sebuah tempat yang dipajang lukisan tujuh dimensi terletak di pusat negeri. Lukisan tujuh dimensi itu menyerupai sebuah tempat dimana terdapat cahaya yang dibuat sedemikian rupa menyerupai aliran airmata nya yang jatuh deras jika ia menangis. Dalam hati liana bertanya, ”untuk apa cahaya itu di buat seperti airmata yang mengalir? Apakah dulu pernah ada sesuatu yang seperti airmata?”. Liana semakin ingin tahu, ia memaksa dirinya menangis agar bisa melihat jelas apa yang dikeluarkan matanya ketika ia menangis. Tapi Liana tak kunjung menangis, lantas ia membayangkan sebuah kejadian yang dapat membuat ia menangis. Cukup lama Liana mencoba membayangkan. Sampai ia memperoleh sebuah Topik yang ingin ia bayangkan. Liana membayangkan Betapa menyesalnya ia nanti jika meninggalkan kehidupan tanpa sempat meminta maaf pada Ibu, pada Ayah, pada kakak, pada adik dan pada semua orang. Airmata Liana mengucur deras. Semakin deras ketika ia membayangkan seorang tua yang kehabisan O2.

    Apa yang dilakukan Liana pada airmatanya? Liana menampung airmatanya, pada sebuah gelas kristal. Liana ingin melihat rupa airmata itu, seperti apakah airmata itu?. Seusai menangis ia memandangi airmatanya yang ada dalam gelas kristal itu. Ia menggoyang-goyangkan gelas itu perlahan, dan cairan itu bergerak mengikuti gerakan gelas. Liana semakin penasaran dan bertanya-tanya, apakah ini?. Dengan membawa gelas kristal dalam kotak penyimpannya, liana memacu Light carnya menuju rumah. Sesampainya di rumah Liana langsung ke Mesin belajar. Ia meneteskan airmata dari gelas kristal pada lempengan indikator pembaca di mesin belajar. Pada layar monitor mesin belajar terdapat informasi yang mengatakan bahwa zat tersebut adalah air. Dengan kata kunci AIR itu Liana melacak terus dalam mesin belajar. Hingga ia menemukan suatu informasi sebagai berikut : ” Air adalah suatu zat yang mengandung bahan mineral dan vitamin yang berguna bagi kehidupan. Dengan Air setiap makhluk menjadi hidup. Hingga pada akhir informasi tertulis Air Sumber Kehidupan. Liana semakin ingin tahu.....

    Suatu malam Liana memanggil semua peralatan yang ada di Rumah nya. Mesin belajar, Mesin Voice Message, Tabung O2, Light Car, semua mesin dirumahnya ia panggil. Setelah semua berkumpul di Liana bertanya ” tahukah kalian dimana Air berada?”.

    ”Air?” mesin apa Air itu? Apakah ada mesin baru di rumah ini?” tanya Tabung O2.

    ”Bukan, Air bukan mesin, aku sedang mencari sesuatu yang bernama Air, darimana ia datang, untuk apa dia ada, dan seperti apakah rupanya?” tegas Liana.

    Setelah lelah bertanya dan meminta pendapat tapi belum mendapat jawaban, tiba-tiba mesin dimensi waktu yang sedari tadi hanya menggerakkan tangannya mengatur waktu berkata, ”Aku bisa menunjukkan pada mu dimana Air itu berada, kita hanya perlu memutar dimensi waktu dalam waktu satu malam saja, tidak lebih” kata mesin dimensi waktu.

    Liana terhenyak dari ”kursi berfikir”nya sambil berseru ”Oh ya?.... tidak apa walau hanya satu malam, aku ingin melihat apa Air itu”, seru liana dengan antusias.
    ”baiklah, aku akan memutar dimensi waktu pada pukul 18.00 hingga 05.pagi nanti malam” tegas Mesin dimensi waktu, ”tapi jika engkau melewati batas waku maka engkau akan lebur dengan sendirinya seperti embun dibiaskan oleh cahaya matahari” lanjut mesin dimensi waktu.

    Mendengar itu liana segera mempersiapkan peralatan untuk meuju sebuah tempat dimana air berada. Tabung O2, masker pelindung cahaya, seperanngkat pakaian anti bakteri, seperangkat sepatu pelindung, sebotol gas anti virus, semua peralatannya ia bawa untuk menuju tempat Air. Dengan penuh semangat liana meraih sebuah mesin pencatat dengan sarung tangan touchscreen. Sebuah liontin kristal berwarna biru tergantung di lehernya sebagai alat pemantau dan perlindungan, sehingga dengan alat itu ia akan dengan mudah ditemukan dan dilacak oleh mesin dimensi waktu.

    Pukul 17.30, liana sudah mondar mandir tak sabar. Mesin dimensi waktu meminta liana bersiap-siap. Pukul 18.00 Liana berdiri dibawah cahaya yang dikeluarkan oleh mesin dimensi waktu. Secepat kilat liana sudah berada pada suatu tempat yangs angat asing. Suatu tempat yang terdapat tonggak-tonggak yang betul-betul hidup, memeiliki sulur-sulur yang menghujam kedalam tanah yang didalam mesin belajar disebut akar.
    ”Ups....” Liana terperanjat, ia ingat dan langsung berteriak ” ough inikah yang disebut Pohon itu?”, woooow, alangkah kerennya” teriak liana sambil meraba kulit pohon, menyentuh daun-daunnya. Sambil meloncat kegiarangan Liana beralih sambil berteriak girang.... ”Ough inikah yang disebut pohon? Ini pohon.....! woooooow aku menemukannya, aku menemukannyaaaaa” terika Liana sekencang-kencangnya.

    Liana terperanjat lagi, ia merasa aneh, mengapa sedari tadi ia berteriak, tapi tabung oksigennya tidak menunjukkan penguarangan Oksigen. Liana menggerak-gerakkan tabung Oksigennya, sambil merunduk menyentuh tanah, tiba-tiba selang penghubung O2 dari tabung O2 nya terlepas dari tubuhnya. Liana semakin terperanjat kateika ia sama sekali tidak merasa sesak nafas......

    ” haaaaaaaaahhhh aku tidak sesak tanpa tabung ini, teriak Liana tersadar.... oooh benarkah, apakah ini mimpi.... ooooohhhh aku bisa menarik nafas sesuka ku.... ada apa ini? Mengapa bisa aku tidak lagi memerlukannya? Tanya liana sambil melepaskan tabung O2 nya. Ooooh bertahun-tahun aku selalu pergi kemana-mana dengan Tabung ini, tapi disini aku tidak memerlukannya, punggungku tidak penat lagi, dan aku tidak sesak, aku bisa menghisap O2 sesuka yang kumau.......!” Liana berlari dan menari riang, perlahan dan pasti satu persatu peralatan ditubuhnya ia lepaskan, masker pelindung cahaya ” maaf aku tidak memerlukanmu lagi, disini cahaya tidak mengandung radiasi, kemudian seperangkat pakaian anti bakteri, seperangkat sepatu pelindung, sebotol gas anti virus, ia lepaskan smbil berkata, inilah keindahan dan kedamaian sesungguhnya, aku tidak memerlukan kalian lagi..... alangkah nikmatya tinggal disini. Liana terus menari,menari sambil berteriak sekencang-kecanganya, ia baru berhenti ketika ia mendengar sebuah alunan merdu sebuah suara diantara bunyi ” cit-cit.... cuiiiit....cuiiit” bunyi itu bergemericik, seoalah begitu lembut, liana mencari sumber suara, perlahan ia melangkahkan kakinya yang tanpa alas lagi pada tanah yang lembab, dan ia terpana ketika dihadapannya ia melihat sesuatu yang menerupai zat seperti airmata.... ia berteriak sangat keras sambil melompat ”AIR!”, Ya.... pasti, pasti inilah yang disebut air..... sambil terpana ia menyentuh air, ohhhhhh alangkah sejuknya, lirih liana bergumam. Tanpa sadar Liana melangkahkan kakinya masuk kedalam air, diantara bebatuan dan pasir didasarnya yang tak terlalu dalam, Laian menangis, tetesan airmatanya berjatuhan, daintara suara gemericik air di hadapannya. Perlahan Liana berkata, ” mengapa-mengapa kau tidak terdapat di negeri ku Air? Mengapa?. Begitu hinanya negeri ku hingga kau tak sudi berdiam di negeriku? Liana menangis, sejadinya, hingga tanpa sadar ia terduduk pada seoanggok batu hitam. Sambil terus menangis ia memandang kedalam air, disela-sela kakinya ia mendapati makhluk-makhluk dalam air, berenang dengan cerianya, airmata Laina semakin deras, sambil bergumam lirih, apa yang telah dilakukan manusia di zamanku hingga kalian tak ada lagi di negeriku? Ada apa dengan kehidupan kalian?, Kenapa? Kenapa kalian tiada satupun sudi berdiam di negeriku, ceritakanlah pada ku.... andaikan aku bisa menukarnya dengan apapun yang kumiliki agar kalian bisa berada di negeriku itu aka aku lakukan...... kata liana, lirih hampir tak terdengar. Waktu terus berjalan, Liana perlahan bangkit, setelah mereguk segarnya air dan membasuh wajah dari air mata, ia beranjak menuju sebuah onggokan bebatuan yang berserakan tak jauh dari air. Sambil berjalan Liana melemparkan pandangan pada setiap apapun yang dilewatinya. Hingga tak alam kemudian liana tiba pada sebuah sebuah kubah yang menyerupai sebuah rumah. Liana masuk kedalam ruangan itu, ia mendapati sebuah ruangan dalam rumah tua dan penuh dengan rerantingan dan dedaunan yang jatuh. Diruangan itu, terdapat sebuah lemari terbuka berisikan benda-benda yang terdiri dari lembaran-lembaran tipis yang berwarna kekuning-kuningan. Salah satu benda yang berisikan lembaran tipis itu tergeletak di sebuah meja di depan lemari. Di bagian depan tertulis ”Hutan dan Manusia”. Liana membaca benda yang disebut Buku itu, lembar demi lembar, hingga ia dapat enyimpulkan bahwa 1000 tahun lalu, disini, dimana ia dikembalikan oleh mesin dimensi waktu dulunya adalah sebuah negeri yang disebut Hutan. Negeri itu dulunya disebut negeri megabiodiversity. Negeri itu bernama Indonesia. Negeri itu memiliki suatau tempat yang disebut Hutan Tropis. Negeri itu dulu merupakan negeri yang kaya akan sumberdaya alamnya. Negeri itu dulu adalah negeri dimana masyarakatnyahidup dengan hasil hutan dan alamnya. Namun pada akhirnya negeri itu semakin terpuruk, kemiskinan dan kebodohan menjadikan masyarakatnya saling mnyalahkan, salaing berebut kekuasaan, saling mempertahankan kebenaran individu dan kelompok, hingga suatu ketika negeri itu mengulang lagi sejarahnya sendiri yaitu dimanfaatkan oleh negara lain, diadu domba dan menjadi musuh bagi negrinya sendiri dengan menjadi engkhianat, hingga akhirnya negeri itu berperang dengan antara masyarakatnya sendiri, negeri itu bertikai dengan sesama saudaranya sendiri, negeri itu menjual harga diir bangsanya dengan tumpukan hutang, nenegri itu akhirnya hancur karena kekeliruan yang berasal dari masyarakatnya sendiri. Ya... negeri itu dulunya bernama Indonesia. Ya...... Indonesia Raya.

    Liana, tertunduk lesu ketika usai membaca buku demi buku, dan lembar demi lembar yanga da di ruangan itu, tak terasa waktu telah berjalan, liana dihadapakn pada dua pilihan, kembali pada negerinya dimana ia harus mengusng Tabung O2 kemana-mana, atau tetap tinggal dengan izin mesin dimensi waktu untuk tetap ada di Negeri Indonesia yang meski buruk tapi adalah negeri leluhurnya. Akhirnya dengan memantapkan hati liana mengirim sinyal pada mesin dimensi waktu untuk tetap tinggal di Bekas Negeri Indonesia. Mesin dimensi waktu berkata ”Hanya ketulusan mu yang bisa membebaskannmu dari biasan matahari ”. Mendengar itu Liana langsung menengadahkan wajah, memejamkan mata sambil mengucap kalimat permohonan pada yang kuasa ” Tuhan.... izinkan aku tetap tinggal, meski buruk namun ini adalah negeriku, izinkan aku tetap tinggal, dan berilah aku kekuatan agar aku bisa melanjutkan cita-cita masyarakat neegri ini yang dulu belum sempat di wujudkan” . Liana memohon hingga subuh menjelang. Semburat fajar di ufuk timur, menghangatkan wajah Liana, perlahan Liana membuka mata sambil berucap lirih ” Terimakasih Tuhan atas kesempatan ini, beri aku kesempatan dan petujuk untuk melanjutkan cita-cita leluhurku, atas izinMu aku akan tetap hidup, atas IzinMu.

    Liana, melangkah dengan penuh semangat, bersiap dan bergiat untuk melanjutkan cita-cita anak negeri yang belum sempat diwujudkan. Selamat berjuang Liana.

  • Di sini Dilarang Ja-im!

    Disini dilarang Jaim!

    Jaim adalah singkatan dari Jaga Image. Banyak yang melakukannya, karena diduga dan disangka bisa tetap menjaga kewibawaan. Tapi ada juga yang akhirnya mengakui lelah dengan Jaim. Jaim sebuah sikap yang tidak mendidik. Karena bisa menjadikan peserta didik penuh dengan kepura-puraan.

    Jaim mengapa dilakukan?

    Untuk tetap menjaga wibawakah? Bukankah wibawa itu akan terus ada apabila berani menjadi diri sendiri, jujur pada diri sendiri yang jelas memancarkan aura kebajikan tersendiri.

    Mengapa mesti Jaim jika tanpanya kebebasan berkreatifitas itu akan tumbuh lebih baik?

    berkreatifitas bebas dan pantas sejak dulu hingga sekarang.

  • Ceritakanlah padaku......

    Libur untuk anak sekolah dasar kelas V sudah dimulai, karena siswa kelas VI sedang melangsungkan kegiatan ujian Nasional. Hmmmm, oleh karena di palembang sedang bergiat untuk acara City Expo dan juga ada lomba bidar, maka, kali ini kita akan bercerita tentang Legenda Lomba Bidar, sumber bacaan ini didapatkan dari sebuah tulisan, yang tidak tercantum namanya, tapi dengan penuh keyakinan tentunya penulis tidak akan keebratan jika tulisannya sudah menjadi salah satu sumber ilmu pengetahuan bagi siswa.

    sebenarnya cerita ini akan terus di lanjutkan dengan kegiatan yang berwawasan lingkungan, menyangkut kualitas air sungai musi dan komponen lingkungan lainnya seperti, air, kehidupan masyarakat di pinggiran sungai musi, dan sebagainya.

    Ayo.... mari kita awali dengan legenda bidar berikut.

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    LEGENDA ASAL MULA
    LOMBA BIDAR
    [Anonim]

    Lomba bidar adalah lomba mendayung perahu yang dinamai ‘bidar’. Seni dayung tradisional Palembang ini hidup sejak zaman dahulu kala hingga sekarang. Pada perayaan hari besar, terutama Hari Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus, lomba bidar dilangsungkan di Sungai Musi yang mengalir di tengah-tengah kota Palembang.
    Perahu bidar berbentuk khusus. Menurut cerita, bidar adalah singkatan dari biduk lancar. Sejenis biduk (perahu) yang zaman dahulu kala khusus digunakan oleh petugas penghubung atau kurir. Bentuknya kecil dan hanya muat untuk seorang. Akan tetapi, pada perlombaan sekarang, satu perahu didayung oleh belasan orang.
    Menurut cerita, lomba bidar bermula dari peristiwa Putri Dayang Merindu. Seorang gadis cabtik jelita tinggal di bagian hulu kota Palembang. Anak tunggal, ayahnya bernama Sah Denar, bersahabat dengan Tua Adil, teman sekampung keluarga kaya raya yang mempunyai anak pria bernama Dewa Jaya.
    Beranjak remaja, Dewa Jaya dikirim orang tuanya ke beberapa negeri lain untuk menuntut ilmu bela diri, terutama pencak silat. Bertahun-tahun menuntut ilmu, ketika kembali dia sudah jadi pemuda remaja yang tampan. Ia sangat kagum dan jatuh cinta pada dayang merindu, yang sejak kecil menjadi teman bermainnya.
    Dewa Jaya minta agar orang tuanya melamar. Sah Denar dan istrinya senang mendengar hasrat melamar itu. Ketika suami istri menanyai anak mereka, Dayang Merindu dengan lembut menjawab: “Mohon ampunan pada Ayah dan Bunda. Belum tersirat rasa cinta di hati saya terhadapnya. Oleh karena itu, saya belum mau mengatakan bersedia jadi istrinya. Namun, jika Ayah dan Bunda memaksa, saya tidak akan durhaka pada orang tua.”
    Sah Denar dan istrinya berpendapat, mungkin karena Dayang Merindu baru berusia sembilan belas tahun, belum ada hasrat bercintaan dengan pemuda. Ketika keluarga Tua Adil dating melamar, mereka menerima lamaran itu dengan ikatan pertunangan. Sementara itu, di sebuah kampung di hilir kota Palembang, ada seorang pemuda bernama Kemala Negara, anak keluarga petani di tepi Sungai Musi. Selama merantau mencari nafkah ke negeri lain, dia banyak belajar ilmu bela diri.
    Pada suatu hari, Kemala Negara sedang mandi bersama teman-temannya di Sungai Musi. Mereka melihat sebuah cawan tembaga kecil hanyut terapung dari hulu. Kemala Negara berenang ke tengah sungai mengambilnya.
    “Biasanya cawan dan bunga serta minyak yang wangi seperti ini adalah bahan keramas cuci rambut wanita,” kata Kemala Negara. Temannya sependapat dan ada yang mengatakan, pastilah benda keramas itu milik wanita kaya raya, bangsawan.
    “Benar. Apa gerangan sbabnya benda seanggun dan semahal ini bisa hanyut? Mungkin ada pria jahat yang mengganggu wanita yang sedang keramas itu. Kita harus berusaha mengembalikannya,” ujar Kemala Negara.
    Temannya berkata: “Benar. Carilah siapa pemiliknya, Kemala! Mana tahu nasib baik, pemiliknya masih gadis dan cantik pula. Sepadan dengan kau.”
    Kemala Negara setuju pendapat temannya. Disimpannya cawan itu tanpa mengusik isinya. Hari itu juga, dia sendiri berperahu menghulu Sungai Musi.
    Dua hari berperahu menghulu, terus bertanya, dan bersua dengan seorang gadis yang sedang mengambil air. Gadis itu tersenyum menjwab: “Benar, Tuan Muda. Ini cawan keramas milik temanku. Dayang Merindu namanya. Tiga hari yang lalu kami mandi beramai-ramai. Dia keramas mencuci rambutnya. Diletakkannya cawan ini di rakit dan kami mandi bermain simbur-simburan. Dia sangat risau karena cawannya ini hanyut.”
    “Terima kasih. Tolonglah Adik kembalikan padanya,” ujar Kemala Negara.
    Gadis itu kagum meliht peemud yang berwajah tampan di hadapannya. Dia berkata: “Tuan Muda sendirilah yang mengembalikannya. Itu rumahnya di hulu situ. Pasti dia sangat berterima kasih.
    “Ah, tolong kembalikanlah Dik. Saya khawatir nanti kalau-kalau dia mengira cawannya ini saya ambil begitu saja.”
    “Tidak, Tuan Muda. Dayang Merindu itu gadis paling cantik jelita di seluruh kampung ini. Sangat rendah hati dan ramah. Tuan Muda sudah menemukan dan dua hari jauh-jauh dari hilir sana mengantarkannya ke sini.” Tapi karena Kemala Negara menolak untuk mengantarkan, gadis itu berkata: “Baiklah. Sebentar lagi saya akan ke rumahnya. Kami akan mandi ramai-ramai petang ini. Nanti akan saya ceritakan semua kepadanya. Tuan Muda tunggu kami di tepi semak jalan ke tepian mandi. Serahkanlah langsung kepadanya.”
    Kemala Negara setuju. Ditambatkannya perahu di dekat belukar, dia menanti di jalan ke tepian mandi. Ketika dilihatnya gadis tadi dating bersama empat gadis, dapatlah dia menduga yang mana gerangan Dayang Merindu. Ketika saling pandang dari jarak yang masih agak jauh, pertama kali dalam hidupnya Dayang Merindu merasa darahnya bergetar, kagum melihat Kemala Negara membungkuk tnda hormat. Dayang Merindu langsung berujar: “Temanku ini sudah menceritakan semua. Alangkah tingginya baik budi Tuan, telah menemukan dan sudi bersusah payah mengantarkan cawan itu.”
    “Maaf Putri Jelita. Terimalah cawan ini. Saya bahagia karena telah dapat mengem-balikannya,’ kata Kemala Negara. Dayang Merindu menyambut cawan itu. Masih saling memegang cawan, Dayang Merindu berujar: “Dengar apa gerangan saya dapat membalas baik budi Tuan?”
    Kemala Negara tak mampu berkata-kata. Darahnya gemuruh. Keduanya saling merasakan api cinta pertama bergelora di jiwa.
    Dayang Merindu sadar dan merasa malu pada teman-temannya. Ditariknya cawan itu. Namun, teman-temannya yang sudah maklum sengaja menjauh. Kemudian, berbincang-bincanglah kedua remaja yang saling jatuh cinta itu. Berkatalah Kemala Negara: “Silahkan mandi. Teman-teman sudah menanti. Bolehkan kita bersua lagi?”
    “Saya juga ingin berkata begitu. Dapatkah kita bersua lagi? Kami mandi dua kali sehari. Tunggulah di jalan ini.”
    Tiga hari lamanya Kemala Negara berada di kampung itu. Enam kali mereka bersua dan berbincang. Ketika pulang ke kampungnya, Kemala Negara minta orangtuanya melamar Dayang Merindu. Akan tetapi, alangkah kecewanya mereka, ketika Sah Denar dan istrinya menolak lamaran, dengan alas an Dayang Merindu sudah dipertunangkan.
    Kemala Negara sangat marah. Ditantangnya Dewa Jaya bertanding. Dewa Jaya tidak menolak. Keduanya menghadap Datuk kampung itu. Mereka menyatakan ingin bertanding. Siapa yang menang dialah yang berhak jadi suami Dayang Merindu.
    Diumumkanlah ke seluruh kampung akan diadakan pertandingan. Seluruh penduduk pun berkumpul menyaksikan. Hanya Dayang Merindu yang tak mau keluar dari rumah. Dia sangat cemas kalau-akalu Kemala Negara kalah.
    Setengah hari penuh kedua pemuda itu bertanding pencak silat. Ternyata tak ada yang kalah. Oleh karena itu, Datuk memutuskan, pertandingan dialihkan pada lomba bidar. Siapa yang lebih dahulu mencapai garis finis, dialah yang mnang.
    Pada hari yang ditentukan, seluruh penduduk menyaksikan di tepi Sunagi Musi. Kedua pemuda itu mendapat sebuah perahu bidar yang kecil. Seluruh penduduk berdebar-debar menyaksikan karena ternyata kedua pemuda itu sama kuat dan sama cepat. Keduanya menggunakan tenaga dalam masing-masing. Ternyata keduanya mencapai garis finis pada saat yang bersamaan. Akan tetapi, seluruh penduduk menjdi cemas karena melihat kedua pemuda itu tertelungkup di perahu masing-masing. Ketika diperiksa, keduanya sudah tidak bernyawa lagi.
    Mendengar berita itu, Dayang Merindu meninggalkan rumahnya. Datang ke pendopo dimana kedua mayat pemuda itu dibaringkan. Dia berdiri menghadap sang Datuk yang duduk di kursi kehormatan dekat kedua mayat itu. Dengan hormat, gadis itu berkata: “Saya dan Kemala Negara saling mencinta. Akan tetapi, saya tahu Dewa Jaya juga sangat mencintai saya. Cintanya direstui oleh orang tua saya. Sekarang keduanya sudah menjadi mayat. Saya ingin berlaku adil terhadap keduanya. Mohon agar Datuk belah menjadi dua tubuh saya ini. Yang sebelah mohon dikuburkan bersama Kemala Negara dan yang sebelah lagi dikuburkan bersama Dewa Jaya.”
    Hadirin dan Datuk terpana mendengar keputusan Dayang Merindu itu. Sebelum mereka sempat brkata dan berbuatsesuatu, tangan kanan Dayang Merindu yang sejak tadi memegang sebelah pisau yang diolesi dngan racun terayun cepat. Ujung pisau menusuk dadanya. Dia rebah dan tewas di tempat itu.
    Menurut cerita, seluruh penduduk sangat menghormati dan menyanjung Dayang Merindu yang berani berlaku adil terhadap pemuda yang mencintainya. Jika mereka mengadakan acara untuk memperingati Dayang Merindu yang jadi idola seluruh penduduk, mereka mengadakan lomba bidar.

    Kesimpulan
    Cerita ini legenda belaka. Orang tak percaya itu pernah terjadi. Namun, di Palembang, tempat Dayang Merindu mandi berkeramas, sampai sekarang bernama Kampung Keramasan. Lomba bidar dikembangkan, sampai sekarang dan seterusnya akan hidup sebagai seni tradisional dayung Palembang.
    Kisah Dayang Merindu masih terus hidup sampai sekarang. Kisah ini sering dipentaskan dengan tari, mlambangkan kecantikan, kejujuran, penghormatan pada orang tua dan kemampuan bertindak adil terhadap orang yang telah berkorban jiwa karena mencintainya.

    Nah,.... dari cerita diatas, kita sesungguhnya memiliki keragaman budaya, adat istiadat dan latar belakang sejarah yang sangat mengagumkan. Bagaimana caranya agar kekayaan sumberdaya alam di Sungai Musi tetap menjadi bagian dari sejarah masyarakat Palembang? dan tetap bermanfaat bagi seluruh makhluk hidup di sumatera selatan? salah satunya dalah dengan belajar penuh semangat, giat serta bertanggung jawab. tidak membuang sampah sembarangan(disungai), tidak menggunakan shampo dan deterjen berlebihan, dan menggunakan air bersih sesuai dengan keperluan saja. itu adalah cara kita yang baik dan bermanfaat bagi orang banyak.

    Hmmmmmm, kamu pasti setuju bukan? Ayo kita lestarikan Sumberdaya alam, serta warisan budaya demi keberlangsungan hidup kita nanti.

    salam manis,

    Rumah Baca Liana indonesia

  • Membuat pempek ikan

    Hari Lingkungan hidup pada 5 juni kemarin dirayakan di halaman Rumah Baca Liana Indonesia. Sore itu, kami bersama-sama berkumpul. setiap anak membawa sendiri gandum dan sagu seadanya. selain sagu dan gandum, anak-anak juga membawa gula merah, cabe rawit, asam jawa, bawang merah dan bawang putih, garam, dan sedikit penyedap. Selain itu yang paling utama adalah ikan gabus yang sudah digiling, yang disimpan dalam lemari Es.

    Wuuuaaah, semua bahannya sudah lengkap. Hari ini kita akan membuat pempek ikan sambil belajar dari mana bahan-bahan pembuatnya didapatkan?

    1. Sagu, sagu adalah bahan makanan yang merupakan makan pokok kawan-kawan kita yang ada di irian jaya. sagu dihasilkan dari sari pati pohon sagu. Hmmmm kami bersama-sama melihat poster gambar pohon sagu. hmmmm tapi kami belum mempelajari semua proses membuat sagu, hanya sedikit saja.

    2. Gandum, gandum juga adalah tanaman yang menghasilkan bahan makanan pokok. biasanya merupakan bahan dasar membuat roti dan aneka makanan lainnya. Hmmmm, tau kah kamu bahwa sagu dan gandum juga merupakan makanan pokok selain beras loh.

    3. Ikan, nah pada bagian ini, kita harus banyak mengetahuinya. karena ikan-ikan adalah bahan dasar dalam membuat pempek. dalam membuat pempek, jumlah ikan lebih banyak dari pada jumlah sagu dan gandumnya. jadi kita memerlukan ikan yang lebih banyak. Ikan yang paling enak di pakai dan enak rasanya adalah ikan belida, ikan gabus, nah dua jenis ikan inilah yang paling terkenal sebagai bahan pembuat pempek, karena kelezatannya.

    Tapi saat ini ikan belida sudah hampir punah. ikan belida bertubuh lebar, mirip dengan ikan lais, tapi berwarna hitam, ia memiliki sepasang sungut yang pendek. Kalian bisa melihatnya

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.