Petualangan Satu Malam Kembali ke Negeri Leluhur
Kisah Liana dari Negeri Tanpa Air
Pada suatu masa di Tahun 3000, dimana makhluk di bumi bernama manusia hidup dengan tabung O2 dipunggung, hidup dengan ke modernan yang selalu dibanggakan sebagai wujud eksistensi iptek terapan yang merupakan implementasi kemajuan pola pikir dan IQ sedang memikirkan bagaimana memperoleh setitik Zahra yang pada 1000 tahun lalu disebut Air.
Pada masa itu pula hiduplah seorang anak bernama Liana, yang lahir dari setitik darah yang berasal dari sebuah tempat yang 1000 tahun lalu disebut hutan tropis, Indonesia.
“ Selamat pagi liana, mau kemana kamu pagi-pagi begini?” sapa mesin pembersih, yang dirancang bisa berbicara, dan di desain seperti tubuh manusia, dengan memori 200 GB.
” mau mencari tempat bermain, aku bosan dengan suasana disini, gerah, bising.” jawabnya.
”apa kau sudah meninggalkan Voice Mail untuk Ibu? Tanya mesin cuci yang juga dirancang bisa bicara, yang kala itu sedang mencuci sebuah Handphone.
”sudah” kata liana sambil memasang Tabung O2 dipunggungnya.
Liana dengan tabung O2 dipunggungya, memakai kendaraan dengan bahan bakar cahaya. Dengan langkah berat dan terlihat bosan Liana menjalankan Light Car nya, melaju kencang. Di tengah perjalanan ia melihat Logam-logam yang dirancang berbentuk sebuah Batang dengan lempengan-lempengan baja berwarna hijau, berbentuk bulat telur dengan lengkungan pada ujungnya. Dalam mesin sejarah di mesin pelajaran Liana dahulu, batang itu disebut Pohon dan Lempengan hijau lonjong itu adalah Daun. Di tengah perjalanan pula liana melewati sebuah tempat yang dipajang lukisan tujuh dimensi terletak di pusat negeri. Lukisan tujuh dimensi itu menyerupai sebuah tempat dimana terdapat cahaya yang dibuat sedemikian rupa menyerupai aliran airmata nya yang jatuh deras jika ia menangis. Dalam hati liana bertanya, ”untuk apa cahaya itu di buat seperti airmata yang mengalir? Apakah dulu pernah ada sesuatu yang seperti airmata?”. Liana semakin ingin tahu, ia memaksa dirinya menangis agar bisa melihat jelas apa yang dikeluarkan matanya ketika ia menangis. Tapi Liana tak kunjung menangis, lantas ia membayangkan sebuah kejadian yang dapat membuat ia menangis. Cukup lama Liana mencoba membayangkan. Sampai ia memperoleh sebuah Topik yang ingin ia bayangkan. Liana membayangkan Betapa menyesalnya ia nanti jika meninggalkan kehidupan tanpa sempat meminta maaf pada Ibu, pada Ayah, pada kakak, pada adik dan pada semua orang. Airmata Liana mengucur deras. Semakin deras ketika ia membayangkan seorang tua yang kehabisan O2.
Apa yang dilakukan Liana pada airmatanya? Liana menampung airmatanya, pada sebuah gelas kristal. Liana ingin melihat rupa airmata itu, seperti apakah airmata itu?. Seusai menangis ia memandangi airmatanya yang ada dalam gelas kristal itu. Ia menggoyang-goyangkan gelas itu perlahan, dan cairan itu bergerak mengikuti gerakan gelas. Liana semakin penasaran dan bertanya-tanya, apakah ini?. Dengan membawa gelas kristal dalam kotak penyimpannya, liana memacu Light carnya menuju rumah. Sesampainya di rumah Liana langsung ke Mesin belajar. Ia meneteskan airmata dari gelas kristal pada lempengan indikator pembaca di mesin belajar. Pada layar monitor mesin belajar terdapat informasi yang mengatakan bahwa zat tersebut adalah air. Dengan kata kunci AIR itu Liana melacak terus dalam mesin belajar. Hingga ia menemukan suatu informasi sebagai berikut : ” Air adalah suatu zat yang mengandung bahan mineral dan vitamin yang berguna bagi kehidupan. Dengan Air setiap makhluk menjadi hidup. Hingga pada akhir informasi tertulis Air Sumber Kehidupan. Liana semakin ingin tahu.....
Suatu malam Liana memanggil semua peralatan yang ada di Rumah nya. Mesin belajar, Mesin Voice Message, Tabung O2, Light Car, semua mesin dirumahnya ia panggil. Setelah semua berkumpul di Liana bertanya ” tahukah kalian dimana Air berada?”.
”Air?” mesin apa Air itu? Apakah ada mesin baru di rumah ini?” tanya Tabung O2.
”Bukan, Air bukan mesin, aku sedang mencari sesuatu yang bernama Air, darimana ia datang, untuk apa dia ada, dan seperti apakah rupanya?” tegas Liana.
Setelah lelah bertanya dan meminta pendapat tapi belum mendapat jawaban, tiba-tiba mesin dimensi waktu yang sedari tadi hanya menggerakkan tangannya mengatur waktu berkata, ”Aku bisa menunjukkan pada mu dimana Air itu berada, kita hanya perlu memutar dimensi waktu dalam waktu satu malam saja, tidak lebih” kata mesin dimensi waktu.
Liana terhenyak dari ”kursi berfikir”nya sambil berseru ”Oh ya?.... tidak apa walau hanya satu malam, aku ingin melihat apa Air itu”, seru liana dengan antusias.
”baiklah, aku akan memutar dimensi waktu pada pukul 18.00 hingga 05.pagi nanti malam” tegas Mesin dimensi waktu, ”tapi jika engkau melewati batas waku maka engkau akan lebur dengan sendirinya seperti embun dibiaskan oleh cahaya matahari” lanjut mesin dimensi waktu.
Mendengar itu liana segera mempersiapkan peralatan untuk meuju sebuah tempat dimana air berada. Tabung O2, masker pelindung cahaya, seperanngkat pakaian anti bakteri, seperangkat sepatu pelindung, sebotol gas anti virus, semua peralatannya ia bawa untuk menuju tempat Air. Dengan penuh semangat liana meraih sebuah mesin pencatat dengan sarung tangan touchscreen. Sebuah liontin kristal berwarna biru tergantung di lehernya sebagai alat pemantau dan perlindungan, sehingga dengan alat itu ia akan dengan mudah ditemukan dan dilacak oleh mesin dimensi waktu.
Pukul 17.30, liana sudah mondar mandir tak sabar. Mesin dimensi waktu meminta liana bersiap-siap. Pukul 18.00 Liana berdiri dibawah cahaya yang dikeluarkan oleh mesin dimensi waktu. Secepat kilat liana sudah berada pada suatu tempat yangs angat asing. Suatu tempat yang terdapat tonggak-tonggak yang betul-betul hidup, memeiliki sulur-sulur yang menghujam kedalam tanah yang didalam mesin belajar disebut akar.
”Ups....” Liana terperanjat, ia ingat dan langsung berteriak ” ough inikah yang disebut Pohon itu?”, woooow, alangkah kerennya” teriak liana sambil meraba kulit pohon, menyentuh daun-daunnya. Sambil meloncat kegiarangan Liana beralih sambil berteriak girang.... ”Ough inikah yang disebut pohon? Ini pohon.....! woooooow aku menemukannya, aku menemukannyaaaaa” terika Liana sekencang-kencangnya.
Liana terperanjat lagi, ia merasa aneh, mengapa sedari tadi ia berteriak, tapi tabung oksigennya tidak menunjukkan penguarangan Oksigen. Liana menggerak-gerakkan tabung Oksigennya, sambil merunduk menyentuh tanah, tiba-tiba selang penghubung O2 dari tabung O2 nya terlepas dari tubuhnya. Liana semakin terperanjat kateika ia sama sekali tidak merasa sesak nafas......
” haaaaaaaaahhhh aku tidak sesak tanpa tabung ini, teriak Liana tersadar.... oooh benarkah, apakah ini mimpi.... ooooohhhh aku bisa menarik nafas sesuka ku.... ada apa ini? Mengapa bisa aku tidak lagi memerlukannya? Tanya liana sambil melepaskan tabung O2 nya. Ooooh bertahun-tahun aku selalu pergi kemana-mana dengan Tabung ini, tapi disini aku tidak memerlukannya, punggungku tidak penat lagi, dan aku tidak sesak, aku bisa menghisap O2 sesuka yang kumau.......!” Liana berlari dan menari riang, perlahan dan pasti satu persatu peralatan ditubuhnya ia lepaskan, masker pelindung cahaya ” maaf aku tidak memerlukanmu lagi, disini cahaya tidak mengandung radiasi, kemudian seperangkat pakaian anti bakteri, seperangkat sepatu pelindung, sebotol gas anti virus, ia lepaskan smbil berkata, inilah keindahan dan kedamaian sesungguhnya, aku tidak memerlukan kalian lagi..... alangkah nikmatya tinggal disini. Liana terus menari,menari sambil berteriak sekencang-kecanganya, ia baru berhenti ketika ia mendengar sebuah alunan merdu sebuah suara diantara bunyi ” cit-cit.... cuiiiit....cuiiit” bunyi itu bergemericik, seoalah begitu lembut, liana mencari sumber suara, perlahan ia melangkahkan kakinya yang tanpa alas lagi pada tanah yang lembab, dan ia terpana ketika dihadapannya ia melihat sesuatu yang menerupai zat seperti airmata.... ia berteriak sangat keras sambil melompat ”AIR!”, Ya.... pasti, pasti inilah yang disebut air..... sambil terpana ia menyentuh air, ohhhhhh alangkah sejuknya, lirih liana bergumam. Tanpa sadar Liana melangkahkan kakinya masuk kedalam air, diantara bebatuan dan pasir didasarnya yang tak terlalu dalam, Laian menangis, tetesan airmatanya berjatuhan, daintara suara gemericik air di hadapannya. Perlahan Liana berkata, ” mengapa-mengapa kau tidak terdapat di negeri ku Air? Mengapa?. Begitu hinanya negeri ku hingga kau tak sudi berdiam di negeriku? Liana menangis, sejadinya, hingga tanpa sadar ia terduduk pada seoanggok batu hitam. Sambil terus menangis ia memandang kedalam air, disela-sela kakinya ia mendapati makhluk-makhluk dalam air, berenang dengan cerianya, airmata Laina semakin deras, sambil bergumam lirih, apa yang telah dilakukan manusia di zamanku hingga kalian tak ada lagi di negeriku? Ada apa dengan kehidupan kalian?, Kenapa? Kenapa kalian tiada satupun sudi berdiam di negeriku, ceritakanlah pada ku.... andaikan aku bisa menukarnya dengan apapun yang kumiliki agar kalian bisa berada di negeriku itu aka aku lakukan...... kata liana, lirih hampir tak terdengar. Waktu terus berjalan, Liana perlahan bangkit, setelah mereguk segarnya air dan membasuh wajah dari air mata, ia beranjak menuju sebuah onggokan bebatuan yang berserakan tak jauh dari air. Sambil berjalan Liana melemparkan pandangan pada setiap apapun yang dilewatinya. Hingga tak alam kemudian liana tiba pada sebuah sebuah kubah yang menyerupai sebuah rumah. Liana masuk kedalam ruangan itu, ia mendapati sebuah ruangan dalam rumah tua dan penuh dengan rerantingan dan dedaunan yang jatuh. Diruangan itu, terdapat sebuah lemari terbuka berisikan benda-benda yang terdiri dari lembaran-lembaran tipis yang berwarna kekuning-kuningan. Salah satu benda yang berisikan lembaran tipis itu tergeletak di sebuah meja di depan lemari. Di bagian depan tertulis ”Hutan dan Manusia”. Liana membaca benda yang disebut Buku itu, lembar demi lembar, hingga ia dapat enyimpulkan bahwa 1000 tahun lalu, disini, dimana ia dikembalikan oleh mesin dimensi waktu dulunya adalah sebuah negeri yang disebut Hutan. Negeri itu dulunya disebut negeri megabiodiversity. Negeri itu bernama Indonesia. Negeri itu memiliki suatau tempat yang disebut Hutan Tropis. Negeri itu dulu merupakan negeri yang kaya akan sumberdaya alamnya. Negeri itu dulu adalah negeri dimana masyarakatnyahidup dengan hasil hutan dan alamnya. Namun pada akhirnya negeri itu semakin terpuruk, kemiskinan dan kebodohan menjadikan masyarakatnya saling mnyalahkan, salaing berebut kekuasaan, saling mempertahankan kebenaran individu dan kelompok, hingga suatu ketika negeri itu mengulang lagi sejarahnya sendiri yaitu dimanfaatkan oleh negara lain, diadu domba dan menjadi musuh bagi negrinya sendiri dengan menjadi engkhianat, hingga akhirnya negeri itu berperang dengan antara masyarakatnya sendiri, negeri itu bertikai dengan sesama saudaranya sendiri, negeri itu menjual harga diir bangsanya dengan tumpukan hutang, nenegri itu akhirnya hancur karena kekeliruan yang berasal dari masyarakatnya sendiri. Ya... negeri itu dulunya bernama Indonesia. Ya...... Indonesia Raya.
Liana, tertunduk lesu ketika usai membaca buku demi buku, dan lembar demi lembar yanga da di ruangan itu, tak terasa waktu telah berjalan, liana dihadapakn pada dua pilihan, kembali pada negerinya dimana ia harus mengusng Tabung O2 kemana-mana, atau tetap tinggal dengan izin mesin dimensi waktu untuk tetap ada di Negeri Indonesia yang meski buruk tapi adalah negeri leluhurnya. Akhirnya dengan memantapkan hati liana mengirim sinyal pada mesin dimensi waktu untuk tetap tinggal di Bekas Negeri Indonesia. Mesin dimensi waktu berkata ”Hanya ketulusan mu yang bisa membebaskannmu dari biasan matahari ”. Mendengar itu Liana langsung menengadahkan wajah, memejamkan mata sambil mengucap kalimat permohonan pada yang kuasa ” Tuhan.... izinkan aku tetap tinggal, meski buruk namun ini adalah negeriku, izinkan aku tetap tinggal, dan berilah aku kekuatan agar aku bisa melanjutkan cita-cita masyarakat neegri ini yang dulu belum sempat di wujudkan” . Liana memohon hingga subuh menjelang. Semburat fajar di ufuk timur, menghangatkan wajah Liana, perlahan Liana membuka mata sambil berucap lirih ” Terimakasih Tuhan atas kesempatan ini, beri aku kesempatan dan petujuk untuk melanjutkan cita-cita leluhurku, atas izinMu aku akan tetap hidup, atas IzinMu.
Liana, melangkah dengan penuh semangat, bersiap dan bergiat untuk melanjutkan cita-cita anak negeri yang belum sempat diwujudkan. Selamat berjuang Liana.